Minggu, 01 November 2009

Kamu..Pernah Nyontek?

Cerpen yang fenomenal.
Kenapa?
Karena bikinan aku.
hahahahaha..
Yang dibuat 1 jam sebelum jam b.indonesia.
......

Kelasku begitu sesak.Maklum saja hari ini hari senin. Dan pekerjaan rumah yang diberikan guru masih setinggi gunung. Semua orang sibuk mngerjakan tugas. Ada yang masih berusaha mengerjakannya sendiri, ada yang menunggu hasil pekerjaan orang lain, bahkan ada yang tidak mengerjakan peer sama sekali.

Bel masuk sebentar lagi berbunyi. Semua orang meningkatkan kecepatan menyalin mereka."Dinda", tanyakku pada teman sebangkuku. " Apa?", jawabnya singkat. "Udah ngapalin fisika?", tanyaku. "Belum". " Terus nanti gimana?". " Ya ga gimana-gimana. Berdoa ajah". Aku pun termenung.

Tiba-tiba Pak togar masuk kelas. "Selamat pagi anak-anak!" sapanya dengan logat batak yang khas. "Selamat pagi , Pak!"."Yah keluarkan kertas selembar". "Huu!!!!" sorak semua murid. "Siapa yang jualan tahu? Ayo cepat!" perintah Pak Togar.

Seorang siswa tiba-tiba berteriak, " Kurang banyak soalnya Pak!" . "Oh boleh-boleh saya tambah lagi 3 soal essay. Nomor 1...". " Ah Si Dodi! Ayo kita timpukin!". Dan semua siswa pun melemparkan kertas ke arah Dodi.

Lain Dodi, lain Shidiq. Temanku yang satu itu sangat ku kagumi. Bgaimana tidak.. " Ssst ssst!" sebuah suara membuyarkan lamunanku. "25 apa Rin??". tanya Jagul. " C", jawabku singkat. "Eh Jagul 12?". "E". "Sip sip makasih".

"Ririn!". "Ia Pak!" "Lagi apa kau bisik-bisik?" "Ah perasaan bapak saja." "Oh ya sudah kerjakan lagi sana!" Sambil menunggu hasil transfer dari Dinda, ayo kita melamun lagi. Sampai mana tadi? Shidiq. Temanku yang satu itu adalah juara umum sekolah kami. Dari kelas 1 hingga kelas 3 sekarang dia tak pernah lengser dari juara umum.

Dari kejauhan ku tatapi dirinya yangs edang berkutat dengan soal-soal. Teang, fokus, percaya diri, rendah hati, pintar dan sholeh. Itu yang aku tahu tentangnya.

"Rin,Ririn ini salin." kata Dinda kembali membuyarkan lamunanku. " Oh mana?" " Ini aku diktein. Cepet! abcde, bbcdc, adbda." "Waktu habis! Kumpulkan!" ucap Pak Togar.
"Hampir saja." ucapku lemas.

"Dinda aku kesana sebentar." "Kemana, Rin?" "Shidiq" "Mau apa?" "Ngobrol" Dan aku pun berlalu ke arah Shidiq. "Ehem" ucapku setelah berada di depan Shidiq. "Eh,Rin. Kenapa? Batuk? Di komix ajah. Hehehe. Becanda, ada apa?" "Kosong nih?" tanyaku sambil menunjuk kursi kosong di sebelahnya. "Ia, duduk ajah"

Aku paling malas berbas basi. Dari dulu aku sangat ingin menaynyakan hal ini kepada Shidiq. "Shidiq, kamu..pernah nyontek?", tanyaku langsung ke sasaran. Shidiq tersenyum penuh arti, "Pernah. Sekali." "Terus?" "Terus nilaiku bagus dan aku menyesal. Sejak saat itu aku berhenti menyontek. Itu akan menjadi yang pertama dan yang terakhir ku lakukan." jelas Shidiq.

Karena aku masih penasaran, aku kembali bertanya, "Kalo ada ulangan mendadak dan kita belum ngapalin, kamu ga nyontek juga? Ga takut gitu nilainya turun? Nanti ga juara umum lagi loh? hehehehe." "Gini deh Rin, kita ini ulangan kan buat evaluasi kemampuan diri. Kalo misalnya kita nyontek, berarti kita ga percaya sama diri kita sendiri." jelas Shidiq. Tahn yah kamu ga nyontek Diq?" "Orang tuaku memberi aku nama 'Shidiq' agar aku menjadi orang yang jujur Rin. Apalgi kita ini generasi penerus bangsa, menyontek itu bukan hal yang baik. Tapi ndikasi dari seorang koruptor." Aku kembali bertanya, "Susah Diq kalo ga nyontek." "Alah bisa karena biasa. Mungkin awalnya kita harus memaksakan diri untuk tidak menyontek. Lama-kelamaan insya Allah kita bisa jujur Rin. Ingat kata salah satu guru favorit kia, 'Do not cheat again. Thank you'."

Ambil hikmahnya yah..
Saran dan kritik sangat ditunggu..




1 komentar: